Jam menunujukan pukul 05.30 saat aku siuman. Aku langsung solat subuh trus mandi. Lalu aku makan pagi bersama teman-teman. Makanannya rasanya aneh! Jadinya aku ga begitu selera makan. Setelah itu, sekitar jam 08.00 kami langsung naik bis, bersiap berangkat nonton pertunjukkan tari barong dan tari keris di Putra Barong. Ternyata terjadi satu hal yang tidak diinginkan, dan sialnya lagi, itu hanya terjadi di bisku! Kejadian apa itu? Yah, salah satu guruku lama sekali siap-siapnya, jadi saat dua bis yang lain sudah berangkat, bisku masih terdiam di hotel menunggu pak guru masuk bis dengan setia. Akhirnya guruku masuk juga setelah bis yang lain dah jalan, ah mau kesel, marah-marah, nyorakin, tapi gak bisa, abis dia pak guru sih, jadinya aku dan teman-teman hanya bisa main belakang (mengumpat). Dan kekesalan itu bertambah, setelah terbukti bahwa kejadian itu berakibat fatal, fatal kenapa? Ya karena saat kami tiba di tempat pertunjukkan, kursi penonton utama sudah penuh! Sialan, akhirnya terpaksa aku nonton di samping panggung sambil berdesak-desakkan. Dari situ aku bisa lihat teman-teman dari bis A dan B duduk dengan nyamannya di kursi penonton, ga berdiri n sesak-sesakkan disamping panggung seperti aku n teman-teman sebisku ini! Iri aku! Sialan, padahal kami kan bayarnya sama, tapi mereka bisa nonton dengan lebih nyaman! Tapi aku mencoba sabar n tetap menikmati pertunjukkan walau dengan keadaan kesal n tidak nyaman. Tari Barong menggambarkan pertarungan antara kebajikan melawan kebatilan. Dalam tari ini antara kebajikan dan kebatilan tidak ada yang menang ataupun kalah, karena ini menggambarkan kehidupan nyata, dimana kebajikan dan kebatilan selalu berdampingan bersama, dan tidak ada salah satu dari keduanya yang akan lenyap dari muka bumi ini. Di akhir pertunjukkan kami disuguhi tari keris, diman para pemain tari ini menghujamkan n menusukkan keris ke dada mereka sendiri, hebatnya dada mereka tidak apa-apa, malah kerisnya yang bengkok. Kalau di Jawa mungkin ini bisa disamakan dengan debus.
Setelah selesai menonton pertunjukkan, kami meneruskan perjalanan ke Galuh, pusat tenun Bali. Disana selain terdapat pakaian dan kain, juga terdpat pernak-pernik yang unik, seperti patung, keris mini, sendok, dll.
Beberapa jam aku berada di Bali, ada hal yang menarik, yaitu di tiap objek pasti ada tukang tato keliling yang menawarkan jasanya, tato ini tentunya adalah tato sementara yang dibuat pake tinta, jadi bisa hilang kalu sudah sekitar 2 minggu. Ada yang menawarkan denga sopan, tapi tidak sedikit yang memaksa. Merak menawarkan dengan gayanya yang khas “thatho boy, thatho”. Dua orang teman ku, Munawar n mbah Gulung juga kena paksa tukang tato, tapi mereka cepat kabur. Dua temanku yang lain, Fahmi alias Apenk n Amin juga kena paksa, pertama tukang tatonya nawarin dengan harga tinggi, lam-lama turun n lama-lama bilang gini, “gratis deh mas, itung-itung buat tempat menuangkan kreativitas saya” si tukang tato pun nekat nggambar di lengannya Fahmi, e setealh selesai, ternyata dia minta bayaran, dia bilang “Mas saya kan dah cape-cape gambar jadi bayar donk”, sialan juga ya tu tukang tato. Tapi aku ngerti mereka begitu biar bisa tetep makan, tapi apa ndak ada cara lain selain dengan memaksa?
Setelah selesai berbelanja di Galuh, kami melanjutkan perjalanan ke pusat jajanan Cening ayu, disini jajanannya lumayan lengkap. Disamping tiap jenis makanan selalu tersedia sampelnya, jadi setelah tiba disitu aku langsung keliling-keliling nyobain seluruh sample sam pai kenyang, lumayan gratisan
, setelah itu baru aku mulai belanja.

Dari Cening Ayu rombongan langsung meluncur ke Bedugul. Disana terdapat danau yang indah, beberapa orang temanku menyewa prahu disitu, ada yang perahu boat, ada juga yang ndayung sendiri, kalau aku sih lagi malas naik kapal, jadi cuma keliling-kelling sambil foto-foto.

Setelah puas menikmati keindahan daanau kami lalu melanjutkan perjalanan ke hutan Sangeh, yang penuh dengan kera, disitu juga terdapat pohon lanang wadon, yang katanya kalau dilihat dari depan mirip dengan anunya pria, n kalo dilihat dari belakang mirip dengan anunya wanita. Sesampainya kami di Sangeh, kami langsung disambut oleh para kera, aku pun membeli kacang 1 plastik buat urun ngempani mereka, kami berkeliling-keliling di situ, diaman-mana para kera berkeliaran dengan bebas. Si Aji lalu mencoba menaikkan kera di atas pundaknya, n dia berhasil, kalo aku sih ogah ah, takut.
Setelah puas bercengkrama dengan para kera, kami lalu balik ke hotel.
Bersambung ke chapter 4












gantian… pertamax….
nanggung sekalian hetrix
@suprie
baca donk?
postingannya panjang amat yak?
@cK
mang napa lo kepanjangan? ga enak dibaca ya?
kan saya menceritakannya secara lengkap…
gambar terakhir.. saya pikir itu kaki gajah dengan kemaluan nya yang besar lho ..
xixixiix
wah , jadi kangen pengen ke bali lagi , dah lama ngga ke sana
o iya nyasar nech plus mau ngundang buat baca tulisan ini
makasih
http://realylife.wordpress.com/2008/01/21/palestina-tanah-sejuta-doa/
hehe…gapapa sih. rajin banget nulis panjang-panjang..
saya mah males.
mas mas suka monyet yax….hohoho
aniwey…maksih udah mau visit myblog n kasih coment…
matur teng kyu…..
@funkshit

hehehe, itu gambar pohon lanang wadon yang ada di Sangeh bro! mirip banget kan ma itu…
@cK
ah chika ini, kok tau banget kalau saya ini anak rajin…
@realylife
yup saya dah baca n ninggalin jejak disituh…
@akudanduniaku
ah saya ga suka kok sama monyet, saya mah sukanya ma cewe, hehehe
sami-sami…
datang lagi ya ke pusat oleh2 khas bali “Cening Ayu”
kami tunggu lho….