Arsip untuk Agustus, 2011

Moratorium PNS

Tadi pagi saya menonton berita tentang moratorium PNS. Moratorium PNS akhirnya disahkan oleh pemerintah per September 2011. Moratorium PNS ini berarti pemberhentian sementara penerimaan PNS. Jadi sebelum moratorium ini dicabut, maka tidak akan ada lagi penerimaan PNS. Tetapi ada pengecualian untuk kebutuhan-kebutuhan khusus yang mendesak, terutama untuk bidang kesehatan dan pendidikan.

Memang belakangan ini ramai dibicarakan bahwa salah satu pengeluaran negara yang terbesar dalam APBN adalah untuk membayar gaji PNS. PNS, Pegawai Negeri Sipil, dalam pandangan saya mereka ini adalah pelayan bagi masyarakat. Karena PNS dibayar oleh negara, yang sebagian pemasukkannya memang berasal dari pajak yang dibayarkan oleh masyarakat. Oleh karena itu, menjadi PNS, menurut saya bukan hal yang mudah, menjadi PNS berarti mengemban amanah yang tidak remeh, amanah untuk bekerja sebaik-baiknya dalam bidangnya.

Saya bersyukur bahwa beberapa tahun belakangan ini pemerintah semakin serius dalam memantau dan mendorong kinerja PNS. Misalnya saja sidak saat hari pertama masuk setelah libur panjang, untuk mengetahui dan memberi sangsi kepada PNS yang ketahuan membolos kerja tanpa alasan yang jelas.

Moratorium ini menurut saya cukup tepat. Kemudian menurut saya langkah yang harus diambil pemerintah setelah ini adalah mengoptimalkan kinerja PNS yang sudah ada. Semoga kinerja PNS bisa semakin membaik, terutama dalam melayani masyarakat. 🙂

Tradisi Puasa, Lebaran dan Bermaaf-maafan di Indonesia

Puasa, lebaran dan bermaaf-maafan di Indonesia, tidak lagi jadi sekedar ibadah. Tetapi kesemuanya itu telah menjadi sebuah tradisi, yang ada perayaannya tersendiri di negeri ini. Masyarakat Indonesia bersuka cita menyambutnya. Tetapi adalah sebuah kesalahan, apabila kesemuanya itu dijalani hanya dengan dasar ikut-ikutan tanpa paham akan esensi ibadah itu yang sebenarnya. Ketika malam awal puasa akan dijumpai bahwa tarawih hari pertama akan begitu ramai, masji-masjid dipenuhi dengan para jamaah. Tak sedikit dari kerumunan jamaah itu hanya ikut-ikutan dalam euforia awal Ramadhan. Ibadah yang dijalani tanpa ilmu dan tanpa makna, sia-sia lah saja.

Hal itu dapat dilihat, pada malam-malam selanjutnya, jumlah jamaah akan semakin turun dan pada malam-malam terakhir yang diyakini sebagian besar kita bahwa di antara waktu itulah laialtul qadar turun, jumlah jamaah makin sedikit saja. Ada apa ini? Euforia semakin menurunkah?

Puasa dan tarawih, di masa baru-baru ini rasanya kebanyakan dijalani orang hanya sebagai ritual dan ikut-ikutan belaka. Sayang sungguh sayang. Dan banyak orang yagn berpuasa hanya mendapat lapar dan dahaga belaka, karena kurangnya ilmu tentang puasa dan kurangya kesungguhan dalam menjalaninya.

Di Indonesia, dalam tradisi masyarakatnya kini, tampaknya buka dan sahur itu menjadi sebuah ritual yang lebih penting daripada puasa itu sendiri. Lihat saja, sore hari menjelang berbuka, jalan-jalan penuh dengan berbagai makanan yang dijajakan dan orang-orang berdesakan untuk membelinya. Ibu-ibu pun sibuk mempersiapkan makanan terbaik untuk berbuka puasa. Bahkan makanan yang disiapkan jauh lebih enak daripada makanan yang biasa mereka hidangkan di hari-hari biasa. Seakan-akan berbuka puasa itu harus dengan yang mewah. Padahal berbuka puasa itu tidak harus dengan makanan mewah, tidak harus dengan kolak, es kelapa muda, atau macam-macam makanan lain yang katanya identik dengan bulan puasa. Sebagai pengecualian adalah kurma, yang memang disunahkan oleh Rasulullah untuk berbuka dengan kurma. Alih-alih waktu habis untuk mengantri makanan, alangkah baiknya apabila waktu digunakan untuk tadarus Al Quran.

Lebaran, pun tidak beda dengan puasa tadi, yang nyata-nyata telah menjadi sebuah tradisi dan ritual meriah di bangsa kita ini. Di hari-hari menjelang lebaran, orang-orang malah lebih sibuk untuk mempersiapkan baju baru, makanan lebaran, atau pun kue-kue lebaran, alih-alih mengisi hari-hari terakhir puasa dengan i’tikaf serta memantapkan ibadah di detik-detik terakhir Ramadhan itu. Sebagai contoh saja, untuk masalah kue lebaran, tidak sedikit ibu-ibu yang amat memikirkannya dan ingin rotinya bervariasi dan harus enak. Yang harus dicatat disini, esensi dari menghidangkan kue lebaran itu tiada lain sebagai wujud upaya penghormatan kita kepada tamu yang berkunjung, jangan diniatkan yang lain.

Berbuka puasa dan lebaran itu memang patut kita lakukan dan rayakan dengan gembira, tapi bergembira pun harus bergembira yang Islami, yaitu gembira yang wajar tidak berlebih lebihan serta penuh syukur. Adalah sebuah realita yang nyata, bahwa di sekitar kita ini banyak yang menjadikan momen buka puasa sebagai ajang “balas dendam” setelah berpuasa seharian dan lagi momen Idul Fitri sebagai “balas dendam” besar-besaran setelah sebulan penuh berpuasa.

Dan yang terakhir, tradisi bermaaf-maafan. Sudah jadi kebiasaan di bangsa ini untuk melakukan acara syawalan atau halal bihalal yang acara utamanya adalah saling maaf-maafan. Tiada yang salah dalam tradisi ini, tetapi alangkah baiknya apabila saling bermaafan ini tidak hanya dilakukan setahun sekali saat lebaran, tetapi setiap saat setelah berbuat kesalahan hendaknya kita saling bermaafan. Karena ibadah-ibadah dan taubat yang kita lakukan adalah semata menghapuskan dosa kita kepada Allah, bukan kepada sesama manusia, dan dosa kepada sesama manusia hanya dapat dihapuskan setelah kita saling bermaafan.

Dan satu lagi yang menarik di Indonesia adalah kadang penentuan tanggal 1 Syawal 1432 H tidak seragam, ada yang lebaran atau Idul Fitri lebih dahulu. Tapi semoga tahun 1432 H ini Idul Fitri di Indonesia bisa serempak 🙂

Akhirul kata, salah satu solusi untuk memperbaiki tradisi-tradis yang agak melenceng ini, mari kita tanamkan pada generasi muda, terutama yang masih anak-anak untuk memahami segala esensi dan nilai ibadah sebenarnya dari Puasa, Lebaran dan Bermaaf-maafan tadi. Pendidikan macam TPA harus dimaksimalkan fungsinya.

Dilema Kekuasaan, Kebenaran dan Kekuatan

Kekuasaan, kebenaran dan kekuatan.
Berbagai kasus yang mencuat dalam akhir-akhir ini di Indonesia, mungkin sudah bisa dilihat bibit-bibit semacam itu sejak bangku sekolah.

Misalnya saja di sebuah SMP atau SMA, sebut saja si Fulan, dia menjadi ketua kelas, terpilih dengan demokratis melalui pemilihan ketua kelas, dengan mendapat suara terbanyak. Tapi hal itu tidak serta merta membuat Fulan bisa berkuasa penuh, bahkan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran pun dia tidak bisa berkuasa penuh kalau ada pihak yang lebih kuat. Sebagai contoh, kalau ada anak yang tukang palak, dia tidak serta merta bisa menghentikan aksi pemalakan itu dengan tangannya sendiri, karena ternyata si anak tukang palak itu bergerombol, badan mereka besar dan kekar, kuat. Kemudian apabila sebagian besar kelas melakukan aksi contek menyontek saat ulangan, dia tidak bisa serta merta menghentikannya, tidak bisa serta merta melaporkannya kepada bapak ibu guru. Karena apabila dia melakukan itu, seketika dia bisa dicap sebagai sok suci, tidak solider, dan bahkan keamanan dirinya bisa terancam.

Menjadi pemimpin itu memang tidak mudah, apalagi pemimpin daerah, wilayah ataupun negara. Banyak kepentingan bermain di sana, banyak kekuatan di sana, diluar lingkup kekuasaan, yang bisa mempengaruhi si pemegang kuasa. Terutama tentu saja kekuatan fisik dan uang.

Memang, bisa saja si Fulan beraksi dengan sangat heroik, berkata blak-blakan akan segala kebobrokan di kelasnya, bertindak tegas sebagai ketua kelas. Tapi tentu saja ada konsekuensi yang harus ditanggungnya, terutama konsekuensi buruk, dia harus siap fisik dan mental.

Sekali lagi, menjadi pemimpin itu tidak mudah, apalagi di negeri kita tercinta Indonesia. Saat ini saya hanya bisa berdoa semoga para pemimpin kita diberikan kekuatan oleh Allah dalam memimpin, dalam menegakkan kebenaran dan keadilan.

Pemimpin saja bisa sulit dalam hal diatas, apalagi orang biasa. Orang-orang biasa yang menjadi saksi atas segala keburukkan atau hal-hal yang tidak semestinya. Teringat iklan sebuah provider seluler tentang Joni blak-blakan yang akhirnya dihakimi warga sekampung. Ternyata menjadi seorang penyeru kebenaran, ataupun istilah kerennya whistleblower tidaklah mudah, banyak resiko yang harus dihadapi. Pun begitu dalam kasus contek masal yang menimpa sebuah SD di Jawa Timur.

Ah kebenaran itu padahal harus selalu diutarakan, walaupun pahit. Saya pun masih belajar untuk menjadi seorang pemberani yang bisa dengan lantang menyuarakan kebenaran tanpa takut apapun. Karena sejatinya kita harusnya hanya takut pada Allah semata. Terus berusaha, semoga bisa 🙂

Bersegera Meraih yang Lebih Baik dari Dunia dan Seisinya

Sebuah renungan di hari ini, khususnya untuk diriku sendiri.
Seringkali kita bergegas pagi-pagi, entah itu bersiap sekolah, kuliah, ataupun kerja. Kita berlomba-lomba meraih dunia dengan segala macam upaya belajar keras ataupun kerja keras.
Tapi kadang terlupa, bahswa di pagi hari sekali, Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik daripada dunia dan seisinya, yang kabar baiknya sesuatu itu Insya Allah bisa kita dapat dengan mudah asal ada niat, kekuatan dan kesehatan. Apakah sesuatu itu? Sesuatu itu adalah Shalat Qabliyah Subuh, shalat 2 rakaat sebelum subuh.

Aisyah RA meriwayatkan dari Nabi SAW, Beliau bersabda : “Dua rakaat (sebelum) fajar (shalat subuh) lebih baik (nilainya) dari dunia dan seisinya”.
HR. Muslim dan Tirmidzi

Jadi selama kita masih diberikan kesehatan dan kekuatan, mari berlomba-lomba dalam kebaikan, kita jemput shalat qabliyah subuh yang lebih baik daripada dunia dan seisinya setiap pagi-pagi sekali 🙂

Ironis, Konyol, atau apalah namanya

Ya begitulah, gara-gara berbagai ke-pekok-anku kemarin-kemarin.

Kalkulator yang bisa ngitung phasor itu harganya sebanding dengan 2 SKS kuliah.

dan ke-pekok-anku membuatku lebih memilih 2 SKS kuliah pendalaman dibanding dengan membeli kalkulator itu.

pekokkkkk.

Semoga bisa diambil hikmah dan pelajaran dari kejadian ini.

Tidak boleh terulang di hari-hari kedepan 🙂

Perbanyak Amal Baik

Salah satu seni dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan di Yogyakarta adalah berburu takjil alias hidangan berbuka gratis di berbagai masjid di Yogya. Ini adalah momen utama untuk penghematan yang luar biasa bagi mahasiswa, sehingga pada saat puasa di Jogja, mahasiswa hemat-ers ini hanya perlu mengeluarkan biaya untuk makan sahur sahaja.

Dan tempat favorit saya untuk berbuka puasa adalah di Masjid Pogung Raya (MPR). Kenapa favorit? Ya nomer satu tentu karena Masjid ini yang paling dekat dengan kost saya. Yang kedua, disini segala sesuatunya mengenai buka puasa terorganisir dengan amat baik. Sebelum buka puasa diadakan kajian dan makan-makanan untuk berbuka disusun dengan amat rapi, sehingga jamaah hanya perlu menempatkan diri di belakang makanan yang telah ditata amat rapi.

Dan menurut saya amat rugi kalau kita datang ke MPR hanya mengharapkan dapat buka puasa gratis, seperti sebagian jamaah yang datang pada menit-menit akhir menjelang berbuka. Karena itu berarti mereka melewatkan kajian-kajian yang mantap sebelum berbuka. Jadi apabila kita berbuka puasa dari MPR setidaknya kita harus kenyang akan 2 hal, yaitu kenyang perut (dengan buka gratis) dan kenyang rohani (dengan ilmu dari kajian).

Dan izinkanlah saya berbagi sedikit yang saya dapat dari kajian di MPR beberapa waktu lalu. Kajian ini berisi tentang pentingnya kita memperbanyak amal baik. Jadi mungkin sebagian kita sudah tau, bahwa puasa, zakat, shalat dan berbagai ibadah kita serta taubat kita bisa menghapus dosa-dosa kita, tapi tidak semua dosa. Kenapa? Karena Ibadah dan taubat itu hanya bisa menghapus dosa kita kepada Allah SWT dan belum bisa menghapus dosa kita kepada sesama manusia. Lalu bagaimana kita menghapus dosa kita kepada sesama manusia? Tentu kita harus minta maaf akan kesalahan kita kepada orang yang kita dzalimi. Begitu pun hutang, apabila sampai ajal kita hutang kita kepada orang lain ada yang belum terbayar, maka itu bisa menjadi ganjalan kita di akhirat.

Lalu dijelaskan bahwa apabila sampai ajal kita tiba kita belum sempat minta maaf pada orang yang kita dzalimi atau pun belum sempat membayar hutang kita, maka di akhirat kita harus membayar itu semua. lalu dengan apa kita harus membayar itu pada saudara kita yang kita dzalimi atau hutangi? Tentu tak bisa lagi dengan harta, karena kita mati tidak membawa harta sepeser pun. Ya, kita hanya membawa amal baik dan amal buruk kita di akhirat.

Sehingga, kedzaliman dan hutang kita, akan kita bayar ke saudara kita dengan amal baik yang kita punya. Semakin banyak kedzaliman dan hutang kita yang belum dimaafkan atau kita bayarkan ke saudara kita, semakin banyak amal kita yang kita berikan ke saudara kita. Dan inilah yang bisa menjadikan seseorang itu bangkrut di akhirat.

Siapakah orang yang bangkrut di akhirat itu? Yaitu orang-orang yang amal baiknya habis tak bersisa, karena digunakan untuk membayar kedzaliman atau pun hutang-hutangnya kepada saudaranya di dunia yang belum sempat terbaryakan. Dan apa yang lebih buruk dari habisnya amal baik itu? Yaitu yang lebih bangkrut lagi, teramat sangat bangkrut, yaitu apabila amal baiknya telah habis, padahal kedzalimannya dan hutang-hutangnya belum terbayarkan semua. Dan apa yang akan terjadi? Yaitu amal buruk saudaranya yang dia dzalimi atau hutangi, akan diberikan kepada dia. Naudzubillahi minzalik.

Semoga kita tidak termasuk orang yang bangkrut di akhirat kelak. Tapi kita juga tidak bisa memungkiri, kalau bisa saja kita melakukan kedzaliman pada saudara kita tanpa kita sadari, bisa jadi kita punya hutang harta pada saudara kita, tapi kita lupa, lalu belum sempat membayarnya. Karena kita manusia adalah tempatnya lupa dan salah. Sehingga bisa jadi hal tersebut di atas, dimana amal baik kita digunakan untuk membayarkan di akhirat kelak, menjadi hal yang tak terhindarkan. Lalu apa solusinya? Tidak lain adalah perbanyaklah amalan-amalan baik, amalan-amalan shalih selama hidup didunia. Sehingga kalau memang kelak kita harus membayar dengan amal baik, maka amal baik kita akan tetap tersisa banyak.

Mari perbanyak amal baik, selama kita masih dikaruniai kehidupan di dunia ini, agar kelak kita tidak jadi orang yang bangkrut di akhirat 🙂
Wallahu a’lam bishawab.

Mengapa Harus Shaf Terdepan

Saat kita shalat berjamaah di Masjid, tentu kita sudah tahu kalau shaf yang utama adalah shaf yang terdepan, keutamaan shaf terdepan berdasarkan hadits, bisa anda klik disini.

Nah kalau keutamaan shaf terdepan versi pendapat saya antara lain :
1. Shaf terdepan kerapatan dan lurus shafnya lebih terjamin, apalagi di bulan Ramadhan. Tentang mengapa shaf harus rapat dan lurus bisa klik disini. Jadi begini, para jamaah yang berada di shaf terdepan secara umum sudah paham tentang pentingya shaf yang lurus dan rapat. Nah kalau kita kebagian shaf yang belakang-belakang, mohon maaf, tidak sedikit jamaah yang belum paham akan hal ini, sehingga shaf-shaf bagian belakang tidak jarang banyak renggangnya alias tidak rapat

2. Dengan berada di shaf terdepan, maka tidak ada yang akan berlalu lalang di depan kita setelah shalat selesai. sehingga kita bisa lebih khusyuk dalam berdzikir dan berdoa. Ya, pengalaman saya kalau shalat di shaf belakang, sesaaat setelah shalat mulai ramai orang yang lalu lalang dihadapan saya yang bersegera pulang dari masjid. Dan jujur itu mengganggu ketenangan saya dalam berdzikir dan berdoa sesudah shalat. Oh ya saya pun kadang heran dengan orang-orang yang setelah shalat berjamaah langsung pergi begitu saja, entah motivasinya apa, melewatkan waktu utama untuk berdoa, yaitu setelah shalat berjamaah.


Pemilik Blog :

Fadhilla Tresna Nugraha alias Fadhil alias Fadhil Bedhil
Electrical Engineer jebolan Teknik Elektro UGM, sedang dalam perjalanan meraih cita-cita dan cinta-cinta

Bisa dihubungi lewat jalur berikut :

Tulisan Terbaru

Dilihat sebanyak

  • 151,262 kali

Jumlah Pengunjung Saat Ini

website stats