Dilema Kekuasaan, Kebenaran dan Kekuatan

Kekuasaan, kebenaran dan kekuatan.
Berbagai kasus yang mencuat dalam akhir-akhir ini di Indonesia, mungkin sudah bisa dilihat bibit-bibit semacam itu sejak bangku sekolah.

Misalnya saja di sebuah SMP atau SMA, sebut saja si Fulan, dia menjadi ketua kelas, terpilih dengan demokratis melalui pemilihan ketua kelas, dengan mendapat suara terbanyak. Tapi hal itu tidak serta merta membuat Fulan bisa berkuasa penuh, bahkan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran pun dia tidak bisa berkuasa penuh kalau ada pihak yang lebih kuat. Sebagai contoh, kalau ada anak yang tukang palak, dia tidak serta merta bisa menghentikan aksi pemalakan itu dengan tangannya sendiri, karena ternyata si anak tukang palak itu bergerombol, badan mereka besar dan kekar, kuat. Kemudian apabila sebagian besar kelas melakukan aksi contek menyontek saat ulangan, dia tidak bisa serta merta menghentikannya, tidak bisa serta merta melaporkannya kepada bapak ibu guru. Karena apabila dia melakukan itu, seketika dia bisa dicap sebagai sok suci, tidak solider, dan bahkan keamanan dirinya bisa terancam.

Menjadi pemimpin itu memang tidak mudah, apalagi pemimpin daerah, wilayah ataupun negara. Banyak kepentingan bermain di sana, banyak kekuatan di sana, diluar lingkup kekuasaan, yang bisa mempengaruhi si pemegang kuasa. Terutama tentu saja kekuatan fisik dan uang.

Memang, bisa saja si Fulan beraksi dengan sangat heroik, berkata blak-blakan akan segala kebobrokan di kelasnya, bertindak tegas sebagai ketua kelas. Tapi tentu saja ada konsekuensi yang harus ditanggungnya, terutama konsekuensi buruk, dia harus siap fisik dan mental.

Sekali lagi, menjadi pemimpin itu tidak mudah, apalagi di negeri kita tercinta Indonesia. Saat ini saya hanya bisa berdoa semoga para pemimpin kita diberikan kekuatan oleh Allah dalam memimpin, dalam menegakkan kebenaran dan keadilan.

Pemimpin saja bisa sulit dalam hal diatas, apalagi orang biasa. Orang-orang biasa yang menjadi saksi atas segala keburukkan atau hal-hal yang tidak semestinya. Teringat iklan sebuah provider seluler tentang Joni blak-blakan yang akhirnya dihakimi warga sekampung. Ternyata menjadi seorang penyeru kebenaran, ataupun istilah kerennya whistleblower tidaklah mudah, banyak resiko yang harus dihadapi. Pun begitu dalam kasus contek masal yang menimpa sebuah SD di Jawa Timur.

Ah kebenaran itu padahal harus selalu diutarakan, walaupun pahit. Saya pun masih belajar untuk menjadi seorang pemberani yang bisa dengan lantang menyuarakan kebenaran tanpa takut apapun. Karena sejatinya kita harusnya hanya takut pada Allah semata. Terus berusaha, semoga bisa šŸ™‚

Iklan

1 Response to “Dilema Kekuasaan, Kebenaran dan Kekuatan”


  1. 1 Bin Hakim 18 Agustus, 2011 pukul 1:40 am

    Nice Info, thanx ya sob, lama tak berkunjung nih, Apa kabar?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Pemilik Blog :

Fadhilla Tresna Nugraha alias Fadhil alias Fadhil Bedhil
Electrical Engineer jebolan Teknik Elektro UGM, sedang dalam perjalanan meraih cita-cita dan cinta-cinta

Bisa dihubungi lewat jalur berikut :

Tulisan Terbaru

Dilihat sebanyak

  • 151,262 kali

Jumlah Pengunjung Saat Ini

website stats

%d blogger menyukai ini: