Arsip untuk April, 2012

Antara Mencintai dan Berkendara

Kali ini kita bicara tentang analogi lagi kawan, tapi kali ini analoginya tentang sebuah topik yang menarik :mrgreen: .

Oke kalau kemarin kita bicara tentang analogi antara belajar dengan menjemur pakaian, sekarang saatnya bicara tentang analogi yang menyangkut cinta #eaaa.

Jadi begini, ibaratnya mencintai itu kita sedang mengendarai kendaraan bermotor, entah itu mobil atau sepeda motor, di sebuah jalan raya, dan jalan raya ini ibarat sebuah jalan cinta. Kemudian gas (tingkat kecepatan) pada kendaraan kita itu bisa diibaratkan sebagai tingkat atau kadar dari cinta kita kepada seseorang.

Ibaratkan saat cinta kita terlalu dalam, terlalu cinta, kita mengendarai kendaraan dengan sangat ngebut. Tapi saat kita mencintai secara biasa dan secukupnya, ibarat kita berkendara dengan kecepatan sedang.

Sebelumnya mari kita sepakati bahwa yang akan kita bahas itu cinta sebelum menikah, jadi ibarat jalan, kita belum tahu apakah jalan ini benar atau salah, apakah akan mengantar ke tujuan atau tidak.

Saat kita berkendara dengan ngebut, kemudian selang beberapa saat kita menyadari bahwa kita salah jalan, dan persimpangan menuju jalan lain ternyata jauh dibelakang, tentu kita harus mbalik lumayan jauh dan lama buat pindah jalan, padahal bensin semakin tipis dan pom bensin terletak di dekat persimpangan yang ย letaknya jauh dari tempat kita mbalik. Salah-salah kita sudah kehabisan bensin saat dalam perjalanan mencari jalan lain.

Ataupun saat kita sadar bahwa kita salah jalan, lalu ada persimpangan menuju jalan lain di depan, bisa jadi persimpangan itu terlewat, karena saking ngebutnya kita, atau malahan kita tidak menyadari sama sekali kalau kita baru saja persimpangan yang bisa membawa kita ke jalan lain

Selain itu apabila kita berkendara dengan ngebut, saat kita menabrak sesuatu, mengalami kecelakaan, tentu efek kerusakan yang ditimbulkan bisa sangat parah, dan tentu sakit sekali rasanya. Kecelakaan disini adalah kecelakaan tunggal.

Lain halnya bila kita berkendara dengan kecepatan sedang, saat kita menyadari bahwa kita salah jalan, kita tidak perlu mbalik terlalu jauh untuk menuju ke persimpangan jalan lain di belakang. Ataupun kalau persimpangan ada di depan, kita dengan mudah menyadari ada persimpangan di depan dan belok menuju jalan lain.

Selain itu berkendara dengan kecepatan sedang, apabila kita kecelakaan, tentu akibat kerusakan dan sakit yang ditimbulkan tidaklah begitu parah.

Lalu arti dari runtutan analogi di atas setelah diterjemahkan ke ranah cinta? Ya silahkan artikan sendiri, kan aku sudah kasih petunjuk sebelumnya :mrgreen: Aku yakin pembaca akan paham ๐Ÿ˜€

Jadi kesimpulannya, saat jalan belum pasti apakah itu benar jalan menuju tujuan kita, janganlah ngebut-ngebut. Tapi kalau sudah pasti jalannya bolehlah ngebut asal tetap waspada dan perhatikan keamanan berkendara.

Begitu pula cinta, ย saat jalan cinta itu belum pasti, janganlah keburu mencintai terlalu dalam. Tapi kalau sudah pasti, sudah dalam suatu ikatan, ehm, pernikahan, silahkan mencintai sepuasnya, tapi tetap perhatikan akal sehat juga.

Sekian tulisanku kali ini, seperti biasa, mohon maaf kalau analoginya agak aneh ๐Ÿ˜€

Antara Menjemur Pakaian dan Belajar

Beberapa hari yang lalu, saat siang hari aku menyadari kalau stok pakaian bersihku ternyata tinggal cukup untuk besoknya alias 1 hari saja. Aku pun bergegas segera mencuci pakaian dan menjemurnya. Yap, sudah beberapa minggu ini aku gak pernah laundry lagi, bukan apa-apa, ini karena salah satu pakaianku pernah hilang di laundry, dan tak kembali hingga sekarang. Padahal baju itu gak bisa dibeli di toko dan mempunyai kenangan tersendiri *halah , soalanya itu baju panitia FDK 2011.

Aku mulai menjemur sekitar pukul 11.50 siang. Alhamdulillah saat itu matahari bersinar terang. Panasnya matahari saat itu aku yakin akan membuat pakaian yang aku jemur cepat kering. Dan benar saja, sore harinya menjelang maghrib pakaianku sudah kering semua. Kemudian aku teringat beberapa minggu lalu, saat tiap sore selalu hujan. Pakaian yang aku cuci pagi hari, baru 2 atau 3 hari berikutnya bisa benar-benar kering. Yap itu dikarenakan cuaca yang mendung dan hujan.

Kemudian terlintas di pikiranku, bahwa ini bisa merupakan sebuah analogi. Pakaian itu ibarat otak kita, dan air yang membasahinya ibarat ilmu. Kemudian cuaca itu ibarat suasana ataupun keadaan lingkungan maupun hati kita. Saat pakaian kering, ibaratnya ilmu itu telah masuk secara sempurna ke otak kita. Sedangkan saat pakaian masih basah, ibarat ilmu yang belum masuk secara baik ke otak kita. Lalu, seperti yang sudah aku sebutkan tadi, cuaca cerah akan membuat pakaian cepat kering. Nah itu dia, cuaca cerah ibarat suasana hati yang riang, gembira dan suasana lingkungan yang nyaman, dengan keadaan seperti ini, Insya Allah ilmu akan lebih mudah masuk ke otak kita dan kita pahami. Sedangkan saat cuaca mendung ataupun hujan, pakaian akan lama keringnya. Nah cuaca mendung itu ibarat suasana hati yang sedang tak enak, sedih, murung, galau, dll, dan suasana lingkungan yang kurang atau tidak nyaman, yang dengan keadaan ini ilmu akan lebih sulit untuk masuk ke otak kita dan kita pahami.

Jadi kesimpulannya, saat akan belajar, ciptakanlah suasana hati dan lingkungan yang nyaman, Insya Allah ilmu akan lebih mudah kita pahami.

Mungkin analogiku agak aneh, tapi biarlah ๐Ÿ˜› . Semoga bermanfaat bagi pembaca ๐Ÿ˜€

Minat Baca

โ€Ž”Jaman dulu itu cari buku susah, tapi minat baca mahasiswa tinggi. Jaman sekarang cari buku gampang, tapi minat baca mahasiswanya rendah” – (Pak Isnaneni, 2012)

Sebuah kalimat yang menginspirasi sekaligus menampar dari kuliah DTL beberapa mingggu yang lalu, terutama untuk saya yang minat bacanya rendah, hehe. Terima kasih pak, semoga kedepannya saya bisa meningkatkan minat baca saya ๐Ÿ˜€


Pemilik Blog :

Fadhilla Tresna Nugraha alias Fadhil alias Fadhil Bedhil
Electrical Engineer jebolan Teknik Elektro UGM, sedang dalam perjalanan meraih cita-cita dan cinta-cinta

Bisa dihubungi lewat jalur berikut :

Tulisan Terbaru

Dilihat sebanyak

  • 153,198 kali

Jumlah Pengunjung Saat Ini

website stats