Antara Mencintai dan Berkendara

Kali ini kita bicara tentang analogi lagi kawan, tapi kali ini analoginya tentang sebuah topik yang menarik :mrgreen: .

Oke kalau kemarin kita bicara tentang analogi antara belajar dengan menjemur pakaian, sekarang saatnya bicara tentang analogi yang menyangkut cinta #eaaa.

Jadi begini, ibaratnya mencintai itu kita sedang mengendarai kendaraan bermotor, entah itu mobil atau sepeda motor, di sebuah jalan raya, dan jalan raya ini ibarat sebuah jalan cinta. Kemudian gas (tingkat kecepatan) pada kendaraan kita itu bisa diibaratkan sebagai tingkat atau kadar dari cinta kita kepada seseorang.

Ibaratkan saat cinta kita terlalu dalam, terlalu cinta, kita mengendarai kendaraan dengan sangat ngebut. Tapi saat kita mencintai secara biasa dan secukupnya, ibarat kita berkendara dengan kecepatan sedang.

Sebelumnya mari kita sepakati bahwa yang akan kita bahas itu cinta sebelum menikah, jadi ibarat jalan, kita belum tahu apakah jalan ini benar atau salah, apakah akan mengantar ke tujuan atau tidak.

Saat kita berkendara dengan ngebut, kemudian selang beberapa saat kita menyadari bahwa kita salah jalan, dan persimpangan menuju jalan lain ternyata jauh dibelakang, tentu kita harus mbalik lumayan jauh dan lama buat pindah jalan, padahal bensin semakin tipis dan pom bensin terletak di dekat persimpangan yang  letaknya jauh dari tempat kita mbalik. Salah-salah kita sudah kehabisan bensin saat dalam perjalanan mencari jalan lain.

Ataupun saat kita sadar bahwa kita salah jalan, lalu ada persimpangan menuju jalan lain di depan, bisa jadi persimpangan itu terlewat, karena saking ngebutnya kita, atau malahan kita tidak menyadari sama sekali kalau kita baru saja persimpangan yang bisa membawa kita ke jalan lain

Selain itu apabila kita berkendara dengan ngebut, saat kita menabrak sesuatu, mengalami kecelakaan, tentu efek kerusakan yang ditimbulkan bisa sangat parah, dan tentu sakit sekali rasanya. Kecelakaan disini adalah kecelakaan tunggal.

Lain halnya bila kita berkendara dengan kecepatan sedang, saat kita menyadari bahwa kita salah jalan, kita tidak perlu mbalik terlalu jauh untuk menuju ke persimpangan jalan lain di belakang. Ataupun kalau persimpangan ada di depan, kita dengan mudah menyadari ada persimpangan di depan dan belok menuju jalan lain.

Selain itu berkendara dengan kecepatan sedang, apabila kita kecelakaan, tentu akibat kerusakan dan sakit yang ditimbulkan tidaklah begitu parah.

Lalu arti dari runtutan analogi di atas setelah diterjemahkan ke ranah cinta? Ya silahkan artikan sendiri, kan aku sudah kasih petunjuk sebelumnya :mrgreen: Aku yakin pembaca akan paham 😀

Jadi kesimpulannya, saat jalan belum pasti apakah itu benar jalan menuju tujuan kita, janganlah ngebut-ngebut. Tapi kalau sudah pasti jalannya bolehlah ngebut asal tetap waspada dan perhatikan keamanan berkendara.

Begitu pula cinta,  saat jalan cinta itu belum pasti, janganlah keburu mencintai terlalu dalam. Tapi kalau sudah pasti, sudah dalam suatu ikatan, ehm, pernikahan, silahkan mencintai sepuasnya, tapi tetap perhatikan akal sehat juga.

Sekian tulisanku kali ini, seperti biasa, mohon maaf kalau analoginya agak aneh 😀

Iklan

0 Responses to “Antara Mencintai dan Berkendara”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Pemilik Blog :

Fadhilla Tresna Nugraha alias Fadhil alias Fadhil Bedhil
Electrical Engineer jebolan Teknik Elektro UGM, sedang dalam perjalanan meraih cita-cita dan cinta-cinta

Bisa dihubungi lewat jalur berikut :

Tulisan Terbaru

Dilihat sebanyak

  • 151,327 kali

Jumlah Pengunjung Saat Ini

website stats

%d blogger menyukai ini: