Arsip untuk Mei, 2013

Niat Baik

Niat yang baik tak selamanya mudah untuk diwujudkan menjadi tindakan yang baik. Setidaknya itu yang saya rasakan. Jadi ceritanya sekitar 2 bulan lalu saya membeli sebuah tablet cap ASUS. Saya meniatkan hal baik sehubungan dengan pembelian tablet ini, yaitu untuk memudahkan saya membaca ebook-ebook dimana saja saya berada. Maklum koleksi ebook saya sudah numpuk sekitar 3 GB, baik ebook kuliah maupun non kuliah seperti novel, buku pengembangan diri dan biografi tokoh, tetapi baru sedikit saja yang mampu saya selesaikan.

Seiring berjalannya waktu ternyata ya tadi, mewujudkan niat baik menjadi tindakan yang baik ternyata tidaklah mudah. Saya memang pada akhirnya menggunakan tablet saya untuk membaca ebook, tapi jumlah waktu untuk saya baca ebook tampaknya masih lebih sedikit daripada untuk main game di tablet. Haha, asem tenan pancen, game-game di tablet macam jetpack rider, subway surfer, temple run 2, dkk memang bikin ketagihan. Sempat terbersit pikiran untuk uninstall game-game tersebut, tapi kok berat hati rasanya untuk untuk melakukannya, haha.

Jadi saya akan selalu berusaha, untuk kembali ke niat awal, agar fungsi utama tablet yang saya miliki adalah untuk membaca ebook. Game jadikan selingan saja dengan porsi waktu seminimal mungkin. Bismillah, semoga dimudahkan Allah.

Antara Tidak Tahu, Tahu, dan Mau Tahu

Pagi tadi saya baru saja menggunakan hak suara saya sebagai warga Jawa Tengah untuk memilih Gubernur periode 2013-2018. Awalnya kalau mau melihat sekilas dai nama-nama calon tentu saya tidak mengenal mereka secara baik. Dan saya yakin banyak yang seperti itu jug, tidak kenal dengan calon-calon pemimpin provinsi Jawa Tengah ini.

pilgub-jateng

Sehingga tidak jarang saya mengetahui ada beberapa kenalan saya yang memutuskan untuk tidak menggunakan hak suaranya dengan alasan tidak mengenal calon-calon yang ada.

Bisa dikatakan mereka berada dalam fase ‘tidak tahu’ , dan berlanjut ke tahap ‘tidak mau tahu’. Padahal menurut saya, saat berada dalam fase tidak tahu, seharusnya berlanjut ke tahap ‘mau tahu’. Kenapa? Lha wong ini menyangkut tentang calon pemimpin provinsi mereka.

Alhamdulillah saya sendiri karena tidak tahu, maka saya melanjutkan ke tahap mau tahu, maka sesaat sebelum memilih cagub-cawagub Jateng, saya menyempatkan diri untuk googling tentang profil para kandidat. Sehingga saya tidak asal milih. Dan dari hasil kepo ke para kandidat itu, saya pun cukup mendapat banyak info dari yang saya semula tidak tahu, seperti misalnya cawagub2 yg ada ternyata gak kalah keren dengan cagubnya, ada cawagub yg saat ini masih aktif sebagai rektor sebuah PTN, dan  2 lainnya menjabat sebagai bupati.

Jaman sudah maju boy, internet sudah masuk desa. Jadi saya rasa tidak ada alasan ‘tidak tahu’,  yang sebenarnya artinya adalah ‘tidak mau tahu’.  jangan ragu buat ‘kepo’ ke calon-calon pemimpinmu, baik itu cabup, cagub, caleg di dapilmu, dan pastinya capres. Kenalilah calon pemimpinmu. Ngepoin calon pacar (yg belum tentu jadi) aja semangat, apalagi ngepoin calon pemimpin, harus lebih semangat lagi, ya gak? (malah curhat)

Akhirnya, saya berdoa semoga proses Pilgub Jateng ini berjalan dengan lancar sampai dengan selesai , sampai terpilih dan dilantiknya gubernur baru, aamiin

Inspirasi dari Novel Sang Alkemis

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah novel yang sangat menginspirasi, judulnya “Sang Alkemis” karangan Paulo Coelho. Sebenarnya novel ini sudah sering saya dengar dari beberapa kawan, tapi baru kemarin-kemarin saya bisa membacanya langsung.

Novel ini menceritakan bagaimana perjuangan seorang bocah bernama Santiago untuk mewujudkan mimpi, berbagai rintangan dilaluinya, bahkan dia sempat memutuskan akan melupakan mimpi besarnya. Namun pada akhirnya perjuangannya berbuah manis, dia berhasil mewujudkan impiannya.

Penasaran cerintanya seperti apa? Baca sendiri ya 😀

Tetapi di sini saya ingin mengutip beberapa bagian dari novel ini yang menginspirasi

kutipan pertama

“Buku ini menyatakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh hampir semua buku di dunia,” lanjut orang tua itu. “Ia menggambarkan ketidakmampuan orang untuk memilih Legenda Pribadi mereka sendiri. Dan berakhir dengan mengatakan
bahwa setiap orang mempercayai dusta terbesar di dunia.”
“Apa dusta terbesar itu?” tanya si bocah, sungguh-sungguh terkejut.
“Begini: bahwa pada saat tertentu dalam hidup kita, kita kehilangan kendali atas apa yang terjadi pada diri kita, dan hidup kita lalu dikendalikan oleh nasib. Itulah dusta terbesar di dunia.”

 

Kutipan berikutnya

“Legenda Pribadi adalah apa yang selalu ingin kita tunaikan. Setiap orang, saat mereka belia, tahu apa Legenda Pribadi mereka.
“Pada titik kehidupan mereka itulah semuanya jelas dan segalanya mungkin terjadi. Mereka tidak takut untuk bermimpi, dan mendambakan segala yang mereka inginkan terwujud dalam hidup mereka. Tapi, dengan berlalunya waktu, suatu daya misterius mulai meyakinkan mereka bahwa mustahillah bagi mereka untuk mewujudkan Legenda Pribadi mereka.”

Tak ada satu pun perkataan lelaki tua itu yang dipahami si bocah. Tapi dia ingin tahu apakah “daya misterius” itu; puteri si pedagang kain akan terkesan kalau dia ceritakan hal ini!

“Itu adalah kekuatan yang tampaknya negatif, tapi benarnya menunjukkan kepadamu cara mewujudkan Legenda Pribadimu. Kekuatan ini mempersiapkan rohmu dan kehendakmu, karena ada satu kebenaran terbesar di planet ini: siapapun kamu, atau apapun yang kau lakukan, saat kau benar-benar menginginkan sesuatu, itu karena hasrat tadi bersumber di dalam jiwa alam semesta. Itulah
misimu di dunia.”

So, mari kita berjuang mewujudkan legenda pribadi kita masing-masing!


Pemilik Blog :

Fadhilla Tresna Nugraha alias Fadhil alias Fadhil Bedhil
Electrical Engineer jebolan Teknik Elektro UGM, sedang dalam perjalanan meraih cita-cita dan cinta-cinta

Bisa dihubungi lewat jalur berikut :

Tulisan Terbaru

Dilihat sebanyak

  • 153,198 kali

Jumlah Pengunjung Saat Ini

website stats